Jumat, 19 September 2014

DIPONEGORO PRINCE





Indonesian hero from Java
 




               Mustahar Antawirya also known as Diponegoro  Prince or Dipanegara Prince was a Javanese prince who opposed the Dutch colonial rule. He was born on 11 November 1785 in Yogyakarta, and was the eldest son of Sultan Hamengkubuwono III of Yogyakarta and his mother is Mangkarawati.  He is very brave and energetic prince. He always wearing “Turban” on his head. Turban is a white cloth used as a head covering that is usually used by Islamic religious leaders and clerics. 
               He has a high posture about 170 cm and he has a brownish skin. His white hair always covered with a white cloth known as turban. He also has a black eyes and pointed nose. Diponegoro Prince has a longer legs than the other human today's. He also has sharp eyes so he can see the enemy clearly.One of the characteristic of  Diponegoro Prince is he always wear a white robe. Beside that, he always bring a weapon and until now Diponegoro’s weapon known as “Keris”. 
               Diponegoro Prince always oppose the Dutch colonial government rules that make Indonesian people miserable with his brave. He oppose the Dutch colonial rules by leading the Diponegoro war that occurred since 1825-1830. Which makes the Diponegoro Prince is different from the other heroes of Indonesia is  if he fight against the Dutch  he often rode his favorite horse .
               Diponegoro has a very good attitude. He always care to the others and he is a generous hero. He always give his help and his wealth to make others happy. He also known as workhorse person. He never give up to fight with the Ducth Colonizers were very cruel. He always try to  fight with the Ducth Colonizers.
               Diponegoro Prince is a wise person it can be see when the Sultan Hamengkubuwono III died in 1814, Diponegoro Prince was passed over for the succession to the throne in favor of his younger half brother, Hamengkubuwono IV who was supported by the Dutch. Being a devout Muslim, Diponegoro was alarmed by the relaxing of religious observance at his half brother's court, as well as by the court's pro-Dutch policy.  
               Indonesian poeple belive that Diponegoro Prince is a very nice and wise person and he also is a brave hero. Until now Indonesian poeple, especially the citizens of Magelang relly appreciate of the Diponegoro Prince struggle to figth against the Ducth invaders. Until now, we can find the statue of  Diponegoro Prince who is riding his horse in the town square of Magelang City as mark of respect from the citizens of Magelang City to Diponegoro Prince.
               
               




Rabu, 10 September 2014

TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI TENTANG GAJAH

GAJAH
Gajah  merupakan mamalia sekaligus hewan darat terbesar di dunia yang masih hidup dan lestari hingga kini.
Spesies gajah Asia dan gajah Afrika mulai terpecah kira-kira dua juta tahun dahuluPernyebaran gajah di Asia sangat banyak. Gajah termasuk dalam kategori hewan HerbivoraSebagai anggota dari kelas mamalia, gajah berkembangbiak dengan cara melahirkanGajah hidup di dalam urutan sosial yang terstruktur. Meskipun berbadan besar, gajah memiliki banyak keunikan.
Sepanjang 55 juta tahun terdapat 500 spesies gajah yang dikenal dan hanya dua spesies yang masih ada yaitu Gajah Asia elephas maximus dan
Gajah Afrika loxodonta africana. Gajah Asia berbeda dengan gajah Afrika.. Gajah Asia memiliki telinga lebih kecil sedikit daripada gajah Afrika, mempunyai dahi yang rata, dan dua bonggol di kepalanya merupakan puncak tertinggi gajah, dibandingkan dengan gajah Afrika yang mempunyai hanya satu bonggol di atas kepala. Selain itu, ujung belalai gajah Asia hanya mempunyai 1 bibir, sementara gajah Afrika mempunyai 2 bibir di ujung belalai. Kedua jenis kelamin gajah Afrika mempunyai gading sementara hanya gajah Asia jantan yang mempunyai gading yang jelas terlihat.
Pernyebaran gajah di Asia meliputi India, Asia Tenggara termasuk Indonesia bagian barat dan Sabah (Malaysia Timur). Sedangkan gajah di Afrika pernyebarannya meliputi sebagian besar daratan Afrika yang berupa padang rumput. Di Indonesia, gajah terdapat di Sumatera (Gajah Sumatera) dan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur (Gajah Borneo).
Gajah termasuk dalam kategori hewan Herbivora Ia menghabiskan 16 jam sehari untuk mengumpulkan makanan. Makanannya terdiri atas sedikitnya 50% rumput, ditambah dengan dedaunan, ranting, akar, dan sedikit buah, benih dan bunga. Karena gajah hanya mencerna 40% dari yang dimakannya, mereka harus mengonsumsi makanan dalam jumlah besar. Gajah dewasa dapat mengonsumsi 300 hingga 600 pon (140-270 kg) makanan per hari. Enam puluh persen dari makanan tersebut tertinggal dalam perut gajah dan tidak dicerna.
Sebagai anggota dari kelas mamalia, gajah berkembangbiak dengan cara melahirkan dari masa kehamilan kurang lebih 22 bulan. Pada saat lahir, bayi gajah memiliki berat sekitar 120kg dengan tinggi 90cm, dan bayi gajah adalah salah satu bayi mammalia terbesar di dunia.

Meskipun berbadan besar, gajah adalah hewan perenang yang handal. Mereka dapat berenang selama 6 jam dan menempuh jarak hingga 50 km.
Gading gajah yang besar merupakan sepasang gigi seri pada bagian depan rahang atas, yang terus tumbuh selama gajah hidup meskipun tidak tumbuh terlalu panjang.
Tengkorak gajah yang besar dan kuat, berisi otak yang sangat cerdas. Oleh karena itu, gajah mempunyai ingatan yang sangat baik dan jarang melupakan perintah - perintah yang telah diajarkan. Seekor gajah mampu mengingat 25 perintah atau aba - aba dan mampu membuat alat untuk digunakan sendiri, sebagai contoh, gajah akan mematahkan tonggak kayu untuk menggaruk punggungnya.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Sabtu, 23 Agustus 2014

Gejala Geografi dalam Kehidupan Sehari-Hari

 Gejala Geografi dalam Kehidupan Sehari-Hari
       Beberapa gejala geografi yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari
antara lain cuaca, iklim, gempa bumi, vulkanisme, angin, dan lain-lain.
1. Cuaca
       Cuaca adalah keadaan rata-rata pada suatu tempat, meliputi daerah yang
sempit, dan waktunya relatif singkat. Cuaca sangat memengaruhi kehidupan
manusia di muka bumi. Keadaan cuaca dapat diperkirakan dengan cara
pengamatan. Pengamatan dilakukan
terhadap unsur-unsur cuaca misalnya
suhu udara, tekanan udara,
kelembapan, angin, keadaan awan,
dan curah hujan.
2. Iklim
   Iklim merupakan rata-rata
keadaan cuaca pada suatu wilayah
yang luas dan dalam waktu yang
lebih lama. Iklim sangat berpengaruh
pada pergantian musim
yang ada di Indonesia. Keberadaan musim penghujan dan musim kemarau di
Indonesia sangat berpengaruh pada kehidupan petani khususnya untuk kelangsungan
hidup tanaman-tanaman semusim, di mana pada musim kemarau petani
akan menanam palawija dan pada musim penghujan petani akan menanam
padi. Keadaan iklim di permukaan bumi sangat bervariasi tergantung pada
letak lintang dan bentuk daerah. Unsur-unsur iklim antara lain, pola suhu atau
temperatur udara, pola tekanan udara, dan pola kelembapan udara.

3. Gempa Bumi
        Gempa bumi adalah gejala alam yang memengaruhi kehidupan manusia.
Gempa bumi dapat dibedakan menjadi tiga yaitu gempa bumi runtuhan (terban),
gempa bumi tektonik, dan gempa bumi vulkanik. Contoh, gempa bumi
tektonik adalah gempa yang terjadi di Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah
yang banyak menimbulkan korban jiwa dan rusaknya bangunan yang ada di
wilayah tersebut. Manusia sampai saat ini hanya bisa meramalkan akan adanya gempa bumi, tetapi belum bisa memastikan
kapan terjadinya gempa bumi, sehingga hal
yang terpenting adalah kewaspadaan penyelamatan
diri ketika terjadi bencana tersebut.
4. Vulkanisme
       Vulkanisme adalah peristiwa naiknya
magma dari dalam perut bumi menuju permukaan
bumi. Magma merupakan campuran
batu-batuan dalam keadaan cair, liat, dan
sangat panas. Aktivitas magma sangat dipengaruhi
oleh tingginya suhu magma dan banyaknya
gas yang terkandung di dalamnya. Magma
dapat berbentuk gas, padat, dan cair. Aktivitas
gunung api tidak hanya menimbulkan kerugian
tetapi juga dapat memberikan keuntungan
di antaranya daerah di sekitar gunung api
sangat subur sehingga hasil pertaniannya
sangat besar.
5. Angin
        Perbedaan tekanan udara di beberapa tempat menimbulkan aliran udara
dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah yang disebut
dengan angin. Untuk mengetahui arah angin dapat digunakan bendera angin
dan untuk mengetahui kecepatan angin di gunakan alat yang di sebut dengan
anemometer. Angin terjadi sepanjang tahun atau setiap musim dengan intensitas
yang berbeda-beda. Angin sangat diperlukan manusia, khususnya bagi para
nelayan yang menggantungkan pada arah dan kecepatan angin dalam aktivitasnya
mencari ikan di laut.

Hasil kerja kelompok Bhs. Jawa “Cerita Rakyat Magelang” ‘Kelompok 4’
بسم الله الر حمن ا لرحيم

 Jeneng Siswa;
·         Cyntya Ayu P.K.                 Abiyyu Naufal S.
·         Lailaa Nuur F.                   Muhammad Ridwan.
·         Zahra nadidah .                M. Habib I.S.
Dina / tanggal ; Rebo, 11 September 2013
Pelajaran ; Basa Jawa
Kasil Cerita Rakyat ;                             “Mula Bukane Candi Asu
       Candi Asu inggih punika salah sawijinipun candi ingkang mapan wonten ing tlatah Magelang, Jawa Tengah. Candi Asu punika salah sawijinipun saking tigang candi ingkang kasebar wonten ing Dsa. Sengi, Kec. Dukun, Kab. Magelang. Wonten ing sakiwa tengenipun Candi Asu kasebat, wonten kalih candi ingkang kalian Masyarakat Sengi dipun wastani Candi Lumbung lan ugi Candi Pendem.
        Tembung “Asu” saking asmanipun candi kasebat, boten asma asli ingkang dipun paringaken kalihan Raja Mataram Kuno ingkang mbangun Candi Asu kasebat. Asma aslinipun Candi Asu inggih punika saking Basa Sansekerta, “Aswa” ingkang nggadahi arti “panggonan kanggo ngaso / leren”. Tembung Aswa punika, wonten ilat jawi owah dados“asu” ingkang anggadhahi arti, [Ina: ’Anjing’].
        Candi Asu punika anggadahi ukuran ingkang mboten wiyar, inggih punika kirang langkung     3.0 m2. x  3.02 m. Wonten ing salebetipun Candi Asu punika, wonten luangan ingkang mirip kalian sumur, wiyaripun kirang langkung 1.3m2. x 1.3m2. Miturut salah sawijinipun  arkeolog ingkang asma Bapak  Soekmono, sumur ingkang wonten ing salebetipun Candi Asu kasebat, rumiyin jaman Mataram Kuno kagem sembahyangan [ Ina: ‘pemujaan’] Masyarakat Hindu sekitar  marang Sang Maha Agung.
         Sejarah ngendika, bilih Candi Asu punika anggadhahi carita rakyat inggih punika, mula bukane Candi Asu. Kang kacaritan, bilih sawijining dinten, wonten satunggaling rombongan prajurit perang Kerajaan Mataram Kuno; ingkang dipimpin marang Raja Batara Darma’i hayu Salingsingan; kang liwat wonten ing Dsa. Sengi; lajeng rombongan perang punika leren utawi ngaso kanthi damel sawijining bangunan kagem ngaso/leren; inggih punika awujud candi ingkang dugi samriki taksih dipun wastani Candi Asu. Raja Batara Darma’i hayu Salingsingan mbangun candi kasebat kirang langkung wonten ing abad -8. Miturut sang juru kunci, awit rumiyin candi Asu punika sampun nate dipun pugar kalian pemerintah.
         Wonten ing Candi Asu, rumiyin wonten salah satunggaling arca ingkang dipun wastani Arca Dewi Nandi.  Arca Dewi Nandi kasebat, awujud rupa utawi sirahipun asu lan sangandapipun awujud bidadari kang ayu sanget. Arca punika anggadhahi filosofi bilih tiang estri ingkang sampun gadhah garwo mboten pareng selingkuh marang  sang kakung, mbokbilih tiang estri selingkuh, dipun gambaraken dados Arca Dewi Nandi.
          Jaman rumiyin, Candi Asu sak sampunipun dibangun kalian Raja Batara Darma’i hayu Salingsingan; dipun agem kangge upacara adat Masyarakat Hindu, inggih punika “Netak Abu”, ingkang dipun adani wonten ing sumur kang wonten ing salebetipun Candi Asu.
          Kedah dipun mangertosi, bilih mula bukane Candi Asu punika wonten gegeyutan ipun kalian Kerajaan Mataram Kuno lan ugi Raja Batara Darma’i hayu Salingsingan; ingakang nggadahi satunggaling kekarepan kagem mbangun candi ingkang waget dipun agem kangge leren utawi ngaso para pajuritipun nalika badhe ngadepi perang.
          Waget dipun wastani, bilih sejarah utawi cerita rakyat “Candi Asu” punika  dipun milai kanthi  Raja Batara Darma’i hayu Salingsingan ingkang mbangun salah satunggaling bangunan arupa candi kagem ngaso/leren para prajurit perang Kerajaan Mataram Kuno; ingkang dipun wastani Candi Aswa ingkang kalian masyarakat jawi owah dados tembung ‘Asu’.
          Mekaten carita rakyat utawi asal usul utawi cerita mula bukane Candi, Asu ingkang mapan wonten ing tlatah Magelang.


TEATER BHAVAI, GUJARAT INDIA


Bhavai diyakini berasal dari abad ke-14 . Veshas atau Bhavai memainkan juga dikenal sebagai swang . Dalam salah satu puisi panjang Asaita , salah satu penulis vesha paling terkenal , tanggal komposisi sebagai AD 1360 . Asait menulis sekitar 360 drama , dari mana sekitar 60 selamat. Beberapa veshas ini menanggung nama-Nya . Kinerja Bhavai tampak jelas telah berevolusi dari bentuk-bentuk awal dari hiburan rakyat . Kata Bhavai dalam arti pertunjukan atau tontonan terjadi dalam ayat agama abad ke-13 Apabhramsa Jain . Ia mengatakan : " Dalam saluran pohon - kurang bahkan sekelompok Eranda ( pabrik minyak kastor ) membuat acara yang baik ( Bhavai ) . " Abul Fazal di Ain - e - Akbari juga menyebutkan Bhavai sambil menyebutkan beberapa komunitas .

The Bhavai pemain milik kasta yang kemudian dikenal sebagai tragala .
Ikhtisar

Bhavai sebagian hiburan dan sebagian korban ritual dilakukan untuk Dewi Amba . Di halaman kuil Ambaji dekat Mount Abu festival Navratri dirayakan dengan pertunjukan Bhavai . Amba adalah dewa ketua Bhavai .

Kritik sosial halus dicampur dengan humor tajam adalah khusus dari Bhavai . Perilaku sombong dan incongrous orang kasta tinggi mengejek di Bhavai . Mungkin kemarahan atas ketidakadilan yang diderita oleh penggagas Bhavai , Asaita Thakar , meresap seni Bhavai . Beberapa Bhavai memainkan hadiah review tajam dari struktur sosial kasta - ditunggangi . Orang-orang milik berbagai tingkat strata sosial mulai dari raja untuk penjahat digambarkan dalam Bhavai .
memainkan Bhavai

Bhavai Veshas menggambarkan orang-orang dari semua kelas masyarakat . Para tukang cukur dan pisau - penajam , perampok , penjual bangle dan pencuri sosial dan ekonomi , banjaras , ODAS , darjis , fakir dan sadhus . Ada Vesha menggambarkan kisah affair cinta yang gagal dari seorang wanita Bania dan Thanedar Muslim . Pada akhir permainan Jasma Odan , fakir Muslim muncul kepada siapa meminta orang untuk menghidupkan kembali Jasma .

Humor memainkan peran penting dalam kinerja Bhavai dan datang ke dalam bermain bahkan ketika berhadapan dengan tokoh mitologis . Dominasi ini membuat Bhavai unik di antara seni tradisional India .

Kepala rombongan Bhavai disebut Nayak . Dia pertama kali menandai arena pertunjukan, kemudian menawarkan kumkum untuk minyak - obor yang merupakan simbol dari dewi Amba dan menyanyikan lagu-lagu doa pujian nya . Kemudian masuk seorang aktor menutupi wajahnya dengan piring , dia adalah Tuhan Ganesha , remover dari hambatan . Dewi Kali adalah berikutnya untuk masuk dan setelah dia berangkat datang Brahmana . The Vesha sebenarnya dimulai hanya setelah ini penampilan awal .

The Nayak dan badut yang selalu tetap di atas panggung dan mengarahkan jalannya laga dengan komentar dan intervensi mereka . Cerita terungkap melalui lagu-lagu , dialog dan pidato dalam prosa serta ayat . Ada banyak menari dan bernyanyi di Bhavai . Karakter wanita yang diperankan oleh laki-laki .

Bahasa Bhavai adalah campuran dari Hindi , Urdu , dan Marwari . Veshas diterbitkan untuk pertama kalinya pada abad kesembilan belas dan pertunjukan terkait dengan pendahulu mereka melalui praktek dan tradisi lisan .

Bhungal adalah empat kaki pipa tembaga panjang yang memberikan catatan yang kuat dan unik untuk Bhavai . The bhungals yang dimainkan selama urutan tari dan sebaliknya untuk menunjukkan karakter penting . Alat musik lain yang pertunjukan Bhavai termasuk pakhawaj ( drum ) , jhanjha ( simbal ) , yang sarangi ( instrumen musik gesek ) , dan harmonium . Gaya musik selalu Hindustan diselingi dengan lagu-lagu lokal .

Bhavai juga lazim di Rajasthan sebagai tarian rakyat yang spektakuler . Bentuk Tari terdiri dari terselubung penari perempuan menyeimbangkan sampai tujuh atau sembilan pitcher kuningan karena mereka menari dengan gesit , berputar-putar dan kemudian bergoyang dengan telapak kaki mereka bertengger di atas kaca atau di tepi pedang . Ada rasa pemotongan tepi ketegangan dan menggigit kuku tindakan dalam tarian . Singkatnya Bhavai adalah cerminan dari masyarakat kita sendiri . Jasma Odan berdasarkan Gujarati cerita rakyat , ditulis dan disutradarai oleh Shanta Gandhi dan Mena Gujari diproduksi oleh Deena Gandhi adalah beberapa yang paling musikal Bhavai populer . [ 1 ]


Budaya dan tradisi keduanya hidup dan yang selamanya bereksperimen di Negara Bagian Gujarat . Dengan paduan warna-warna cerah dari tahun kemarin dengan modernitas , masih berakar mendalam menyebabkan kebangkitan masa lalu tradisional .
The Stage di Gujarat bersemangat dengan sendiri tradisional ' Bhavai ' - bentuk yang unik panggung seni, dilakukan dengan ' Bhava ' , yang berarti ekspresi mengungkapkan emosi . Ini arti sebenarnya terdiri dari dua kata - Bhava dan Aai . Bhava berarti alam semesta dan aai ibu , bersama-sama itu berarti ibu dari alam semesta , Amba . Secara eksklusif dilakukan oleh anggota laki-laki dalam berbagai kostum dan bentuk karakter . Sebuah instrumen kuningan angin panjang yang disebut ' Bhungal ' dimainkan selama kinerja untuk memanggil melakukan karakter ke TKP . Drum , simbal dan Sarangi instrumen lain memanfaatkan . Bhavai sebagian besar diadakan di ruang terbuka . Wanita penonton hanya untuk kinerja ' Bhavai ' seperti bermain tarian rakyat secara ketat dilakukan oleh laki-laki dalam peran perempuan juga.
Secara tradisional , tema yang paling populer ' Ramleela ' dilakukan sebelumnya di tempat di Gujarat berdasarkan Ramayana dan Mahabharata yang pada tema mitologi atau sejarah yang sudah ada yang akrab bagi penonton dari zaman dulu .